Radio dan Penggemarnya

Commuter Line, Sudirman – Duren Kalibata 15 Maret 2015 Perempuan itu menggosok gosokkan atau lebih terkesan mengelus radio yang dari tadi dipangkuannya dengan menggunakan kaos warna biru muda yang dikenakannya. Sebuah pemandangan langka bila saat ini, dimana gadget sudah menjadi perlengkapan wajib bagi semua insan, masih ada seseorang yang sangat setia pada radio dua band. Radio berwarna hitam seukuran 25 x 15 cm, dengan model powernya menggunakan batere besar dua buah. Diputarnya tombol gelombang, dan terdengarlah suara penyanyi Addele. Sepertinya suaranya belum tepat bagi kupingnya, tombol tunning diputar dengan seksama. Suara lagu itu terdengar jelas dari tempat dudukku yang berjarak sekitar 5 meter dari perempuan itu. Lumayan juga pilihan lagunya, lagunya masih sering terdengar sampai saat ini. Dia menempelkan kupingnya dengan radio, seperti sedang menyandarkan kepala di bahu kekasihnya. Dia memutar tombol tombol itu seperti mengelus pipi bayi yang halus, pelan dan lembut penuh dengan rasa sayang. Perempuan berambut pendek itu berperawakan kecil, aku perkirakan bobot tubuhnya tidak lebih dari 43kg, dengan tinggi badan sekitar 140 cm, usia sekitar 56 tahunan. Dengan menggunakan sandal jepit, di sekitar mata kaki kulitnya hitam, seperti bekas luka karena kencing manis. Tanpa membawa tas atau dompet, hanya radio transistor warna hitam yang dipegangnya. Kereta listrik yang kami naiki minggu pagi ini agak kosong, sehingga banyak kursi yang tak terisi. Suasana yang langka bagiku yang setiap hari berangkat kerja dengan naik kereta, setiap saat sangat penuh sesak. Pagi ini perempuan itu duduk di kursi seberangku agak kekanan berjarak 5 meter dari tempat dudukku. Nyamannya gerakan kereta, dan dinginnya AC membuat mata jadi agak berat untuk terbuka, badan perempuan itu agak condong kekanan, dan radio dalam genggamannya agak terlepas di pangkuannya, badannya semakin miring, untung sebelahnya kosong, sehingga tidak membebani badan orang lain. Terlihat dia sudah tertidur, walau suara radionya masih mengalunkan suara penyanyi Amerika dengan keras. Sampai di stasiun Manggarai dia tergesa terbangun, dengan sigap dipeluknya radio hitam itu ketika beranjak bangkit dari kursi dan keluar pintu kereta. Ada beberapa hal yang mengusikku tentang perempuan yang unik tadi, seberapa dalam hubungannya dengan radionya, apa yang membuat dia begitu mencintai radio? Penyiarnya, lagunya, atau kenangan yang indah mungkin radio itu pemberian dari orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Aku tak tahu sampai aku turun di setasiun Duren Kalibata, pikiranku masih terbawa pada perempuan kecil itu. Jasmine, 23 Augustus 2015