Monthly Archive: February 2016

0

Overload

Ruang tunggu bandara Mohammad Thaha Jambi sore ini penuh, nyaris semua kursi di ruang tunggu terisi. Beberapa penumpang berdiri di sekeliling deretan kursi, mereka lebih memilih berdiri karena kursi yang disediakan untuk penumpang duduk, terisi tas dan kotak oleh oleh. Sebagian koper dan tas kertas besar ditaruh oleh yang empunya di sela sela kursi, sehingga menghalangi lalu lalang. Suasana agak gerah dan berisik, ruang tunggu yang hanya muat untuk 100 orang itu memang sempit. Perbedaan jam terbang antara pesawat terbang yang akan aku naiki dengan pesawat berikutnya hanya jeda 30 menit. Sehingga penumpang dari dua pesawat itu harus masuk di ruang tunggu nyaris bersamaan. Aku beruntung karena masih mendapat kursi di bagian pinggir, dengan kursi nempel di dinding, di sampingku berdiri AC setinggi dua meter, yang mengarah ke jajaran kursi penumpang di depanku. Disampingku perempuan muda sedang sibuk dengan telephone genggamnya. Di pangkuannya ada tas jinjing perempuan dari kulit ukuran besar, disampingnya tas ransel, disamping kakinya ada dua tas karton ukuran 30×40 cm. Belum lama aku duduk, pengumuman petugas terdengar meminta para penumpang untuk boarding. Bergegas para penumpang berbaris mengular diantara kursi ruang tunggu, menunggu petugas memeriksa boarding pass. Aku masih menunggu sambil duduk, karena tempat dudukku di pesawat di 23 H. Kursi dideretan agak depan dan pinggir, sehingga lebih baik menunggu seluruh penumpang naik. Mengherankan bagiku kalau kita tergesa-gesa antri, bahkan menyelinap diantrian, padahal di dalam pesawatpun kita harus antri untuk menunggu penumpang lain untuk mencari tempat duduknya dan menaruh barangnya dibagasi kabin. Aku perhatikan perempuan disampingku masih menunduk, asyik dengan telephone genggamnya, belum berniat beranjak dari kursinya. Mungkin kami sepaham dalam hal ini, lebih baik menunggu sampai menjadi yang terakhir. Tinggal lima orang dalam antrian, secara hampir bersamaan kami mengangkat badan. Perempuan itu mengangkat tas ransel dan memanggul dipunggung. Tangan kiri menaruh tas jinjingnya di bahu kiri, kemudian dua tangan kanan dan kirinya menjinjing masing-masing tas kertas besar. Sampai di depan petugas perempuan itu ribet mencari boarding pass dan ID card nya, karena tidak perhatian dengan dua benda itu, sehingga tidak sempat menyiapkan. Bawaannya dua tas kertas ditaruh lagi dilantai, dia mencari-cari di dalam tas yang dicantolin di bahu kirinyanya, belum ketemu juga, saku celana jeansnya gantian di obok-obok, nah akhirnya ketemu. Perlu menunggu beberapa saat kami di barisan belakangnya. Aah…betapa repot dan berat juga bepergian dengan bawaan yang berlebihan. Bukannya sudah ada aturan, masuk ke kabin hanya boleh membawa satu koper kecil atau ransel kecil, serta satu bawaan tangan. Beberapa hal yang mungkin diabaikan oleh perempuan ini, bahwa dia melanggar aturan penerbangan, dengan membawa barang masuk ke kabin melebihi batas. Dari sisi keselamatan kalau terjadi hal hal yang membahayakan, dia tidak dapat menolong dirinya sendiri, dan orang lain. Dari sisi yang lain, memiliki materi kalau terlalu berlebihan juga merepotkan, jadi milikilah sewajarnya dan yang betul betul diperlukan. Jambi, Nov 2015

0

Kebahagiaan di Atas Angkot

Duduk di samping sopir angkot, anak lelaki mengenakan baju seragam SLTA. “Pak saya turun di Suzuki ya”, suaranya terdengar ragu ragu. Sopir angkot jurusan Pasar Minggu – Kampung Melayu itu menepi dan berhenti di depan Suzuki Jalan, Dewi Sartika. Dia angsurkan uang kertas dua lembar dua ribuan ke sopir, tetapi sopirnya menolak, “udah bawa aja”, ehh pak..sudah bawa aja, sopir itu mengulang kata katanya. Dengan tersenyum anak itu menoleh lebih menghadap sopir “ terima kasih pak”, pipinya yang bulat, matanya yang lugu, dan senyumnya, memang membuat orang jadi berbaik hati padanya. Turun dari angkot, sambil membetulkan letak ranselnya dia menengok lagi ke sopir angkot, masih dengan senyum bahagianya, karena naik angkot tanpa harus membayar, atau minta minta. Terlihat baju seragamnya warnanya sudah tidak cerah lagi, begitu juga celananya, sudah agak kekecilan. Semoga kebahagiaan ini menyebar, dari sopir yang bahagia dari rumah, sehingga dengan senang hati memberi tumpangan pada anak lelaki. Anak itu bahagia karena bisa menghemat uang empat ribu, dan kejadian ini sempat aku saksikan, karena aku duduk tepat di belakang sopir angkot. Semoga kebahagiaan ini menyebar terus…karena akupun turut bahagia. Nung Jln. Dewi Sartika, 1 Feb 2016