Kelas Berjalan

Kendaraan umum ini mendapatkan stigma, kumuh, lambat, pelan, panas karena tanpa AC, juga sesak karena aturan 64nya. Namun tetap dibutuhkan. Tahukah kamu, mengapa ada istilah 64? Karena kendaraan mobil kijang yang dirubah jadi kendaraan umum ini tempat duduknya saling berhadapan, sisi kiri dan kanan. Sisi sebelah kanan berisi 6 penumpang, sedangkan sisi sebelah kiri 4 orang, karena ada pintunya. Peraturan ini sangat ideal untuk orang bertubuh langsing. Untuk penumpang berbadan besar jelas sebuah penyiksaan. Dan kebanyakan sopir nggak mau tahu dengan kondisi itu. Terus saja teriak, Tolong ya kanan 6, kiri 4. Walaupun sudah penuh tempat duduknya dengan 5 penumpang yang gemuk. Dan yang menggelikan, untuk memberikan perintah berhenti pada sopirnya, kita cukup mengetuk atap mobil atau bilang “Kiri-kiri bang”, dijamin angkot akan berhenti. Angkutan kota yang lazim disebut angkot yang aku naiki ini ibarat kelas berjalan bagiku. Berbagai pelajaran aku dapatkan. Hari ini 15 Desember 2017, ada satu pelajaran lagi. Laksana pelajaran yang ditulis guru kita di papan tulis. Tapi kali ini kalimat itu tertulis di partisi belakang sopir. Kematian (aja) tidak mesti menunggu tobat. Yach pelajaran kali ini, kematian adalah sebuah keberangkatan, yang tanpa kendaraan ataupun tiket, juga boarding pass. Semua makhluk hidup dapat dengan seketika berangkat apabila sudah tiba saatnya. Hanya bekal kebaikan yang akan menjadi jaminan dalam perjalanan selanjutnya. Bila kematian datang tanpa menunggu kita untuk tobat dahulu. Maka selagi kita masih bernafas, lakukan amal ibadah semaksimal mungkin, lakukan sesering mungkin, perkara itu nanti meringankan perjalanan kita atau tidak, semua kehendak Allah. Wallahu Alam Bishawab.