Tirai

Lena menghampar hasil kebunnya di meja kayu yang sudah tidak tegak lagi, di depan rumahnya. Tidak setiap hari dia membuka lapak, tergantung hasil yang ada. Lena perempuan dari pulau kecil di ujung pulau Solor, kulitnya hitam berkilat, tangannya keras tak berlemak menandakan kalau dia terbiasa menggunakan untuk mengangkat beban. Kebun baginya adalah kehidupan, perempuan lugu ini, menyirami, menyiangi seperti memandikan atau mencari kutu di kepala anak perempuan tetangganya. Lena perempuan tabah menghadapi hidup juga suami yang pendiam dan jarang memberi nafkah. Suaminya lelaki pemilik bengkel sepeda motor, sering kali hitamnya oli mengoles dikulitnya yang tak sepekat kulit Lena. Pagi itu tetangganya belanja sayur, dari dalam rumah keluar suami Lena dan seorang lelaki, setelah berpamitan ke Lena dan menegur ibu pembeli, mereka berdua berboncengan sepeda motor. Ibu pembeli mengeryitkan dahi, melirik ke Lena yang sedang menghitung uang kembalian. “Siapa itu?”, “Ohhh teman suamiku, sering dia bertamu disini”. Sayur jinjingannya diletakkan di bale bambu dengan agak keras, keringat meleleh di leher dan dahinya. Rumah Lena selalu sepi, seperti rumah rumah tetangganya, mereka tak ada yang mengunci pintu, walaupun ditinggal, kecuali kalau ditinggal di ibukota kecamatan. Ada dua bilik rumahnya, keduanya tanpa pintu, hanya ditutup dengan tirai kain berwarna merah muda terang mengkilap satin murahan, yang mungkin natal tahun lalu terakhir dicuci. Suara berderit dari dalam bilik depan, waktu belum tengah hari, terkadang memang suaminya pulang saat makan siang. Lena melangkah menuju bilik, tangan Lena menggenggam tirai merah muda kontras dengan tangannya, disibaknya tirai. Perlahan, badan Lena merosot tersungkur di depan pintu, genggamannya lepas dari tirai, sinar matahari tiba tiba hilang gelap pekat. Diujung dipan, kepala suaminya terkulai, pandangan matanya hanya satu arah. Lena tersadar sudah tergeletak di atas dipan, dipan suaminya berpadu badan dengan kekasihnya. Rasa jijik, terhina, tertolak tersedu dalam hati. “Aku harus pergi, selama ini bukan aku yang diinginkannya, bukan jenisku”, suara hati Lena mengeja. Terik matahari di atas genteng tak mampu mencairkan kesunyian dalam bilik itu untuk beberapa saat. “Bukan disini tempatku, izinkan aku keluar dari sini”, Lena berucap dengan pandangan ke celah celah genteng yang menggariskan sinar matahari. Suaminya tergugu, dua tangannya tertangkup diwajahnya, seperti trenggiling menggulung tubuhnya mencoba menyembunyikan seluruh dirinya. Lena perempuan penggarap kebun itu sudah tak tergoyahkan. Jasmine, 23 Maret 2019