Belis Untuk Molita

Angin padang yang kering, berhembus semilir. Penumpang di bangku seberang Narel, perempuan setengah baya terangguk-angguk, tertidur nyenyak. Narel memandang keluar, Sumba pada dasarnya adalah sebuah pulau karang, lihat saja dibalik padang rumput luas, semuanya adalah batu karang yang keras dan tajam. Hanya sedikit pepohonan yang mampu hidup di daerah berkarang dan kering seperti pulau Sumba, kecuali rumput dan semak. Padang sabana, binatang ternak, angin kering selatan, melumatkan rasa Narel dan Molita menjadi ramuan cinta yang pekat. Genggaman tangan Narel tak lepas sepanjang perjalanan, namun tak mampu mengurangi gundah hati Molita, karena tujuan semakin mendekat. Bus jurusan Waingapu – Waikabubak yang membawa mereka masih bergoyang menyusuri jalan aspal, mengarah makin mendekati tujuan. —– “Mencari siapa kakak?“ tanya seorang gadis seraya keluar dari ruang dalam rumah yang dirubah menjadi bangunan kantor ini. Ia berambut ikal dan tersenyum memamerkan giginya yang putih rapi. Dengan gerakan tangannya dia mempersilakan Narel duduk. Sebelum duduk, Narel mengulungkan tangannya untuk berjabatan. Tangannya mendadak dingin, selalu begini kalau dia berdebar. Narel bekerja sebagai seorang wartawan, di harian lokal. Baru dua bulan di tempatkan di Waingapu. Hari itu dia harus meliput tentang bantuan luar negeri untuk pengadaan air bersih. Narel bangun agak kesiangan, karena semalam harus menyelesaikan satu artikel. Menuju dapur, dia menjerang air, kemudian mandi, keluar dari kamar mandi air sudah mendidih, diambil gelas dan menaruh kopi satu sendok, dituangkannya air mendidih. Matanya sudah terang benderang, setelah minum kopi tanpa gula. Dengan sepeda motornya, dia melaju mencari bahan berita, tujuannya ke kantor yayasan luar negeri. Berawal dari pertemuan itu ada dorongan kuat yang membuatnya sering datang ke kantor Molita, gadis yang menemuinya di kantor Yayasan Luar Negeri itu. Hari-hari di Waingapu menjadi lebih indah, jalan berdebu, terik matahari tak menghalanginya untuk menenun cerita bermotif cinta. Sudah dua tahun Molita tinggal di kota Waingapu, Sumba Timur. Beberapa bulan setelah dia lulus kuliah di Kupang, dan nasib membawanya kembali ke tanah Sumba. Dia bekerja pada sebuah yayasan dari luar negeri yang berkantor di Waingapu. Yayasan yang membantu program pemerintah daerah pada pengelolaan air minum. Warung makan siang itu sepi. Langit mendung pekat, hanya ada Narel dan Molita. Memang Narel menyukainya karena masakannya yang enak dan letaknya agak tersembunyi. “Aku telah mencintaimu Molita.” Lelaki itu menatap dengan lekat. Hati Molita bergemuruh, tak kalah dengan suara petir di langit. Hujan berderai deras. Hujan pertama di awal bulan April. Kata orang, hujan adalah air mata bumi yang sedang berduka. Tetapi Molita gadis jelita berambut ikal itu tidak mempercayainya. Baginya hujan adalah kebahagiaan yang dijatuhkan dari langit, untuk menghapus kesedihan di bumi. Siang itu Molita makin percaya, Narel lelaki bermata teduh itu membuktikannya. Sekilas Molita melihat bayangan bapaknya mengintip diantara lebatnya air hujan. Dua belas bulan berlalu tanpa terasa hubungan mereka terus berjalan, berdua saling mengisi hari, tanpa mengumbarnya di depan umum. “Kemarin aku bercerita tentang dirimu ke orang tuaku, pertanyaan mereka standar.“ Kata Molita sore itu di teras kos. Senyum Narel tersungging, mendengar kata-kata kekasihnya. “Aku ingin berkenalan dengan orang tuamu.“ Ujar Narel. “Kapan?“ “Hari Senin kan ada hari libur, kita bisa berangkat Sabtu siang.“ “Kau akan memperkenalkan diri sebagai apa?“ “Sebagai laki-laki yang akan menjaga anak perempuannya seumur hidup.“ “Kau tahu ayahku kan, aku sering cerita padamu.“ “Ya, bapakmu sangat menyayangimu, dan sebagai tetua adat, beliau memegang teguh adat Sumba Barat.“ “Kau tahu, hubungan kita ini pasti akan ada benturan adat, mengenai sesuatu yang membuatku risau”. “Apa yang kita rasakan sama, bagaimanapun aku akan berusaha, waktu akan membantu kita, alam semesta pasti berpihak pada orang yang bersungguh-sungguh, percayalah”. “Bagaimana kalau kau tak sanggup memenuhi persyaratan pinangan nanti?” “Setahu aku orang Sumba itu demokratis, dengan musyawarah, akan ada kelonggaran aturan”. “Semoga, tapi seringkali tidak masuk akal, aku takut, kau tak mampu melunasinya.” Narel menyentuh ujung hidung Monita dengan ujung jari telunjuknya, menenangkan dan menutup pembicaraan. Sabtu sudah datang, mereka naik bus. Suara John Denver, mengalunkan lagu Take me home dalam batin Narel, ada rasa yang tak dimengerti, bahagia sekaligus sendu. Selalu begitu setiap dia bahagia, selalu terselip rasa sedih. Dia sentuh pucuk hidung kekasihnya, Molita membuka mata. Bus sudah memasuki batas kota. Sepuluh menit lagi akan sampai, hati Molita kembali berdegub kencang. Ketika pohon waru depan rumahnya sudah terlihat, dia memberi isyarat dengan pandangan mata ke Narel, mereka sudah sampai. Kebiasaan orang Sumba, jarang menutup pintu rumah, meskipun penghuninya berada di belakang. Mereka berdua memasuki halaman, ada pohon waru, kelapa dan tanaman semak mengisi halaman. Bayangan tubuh Molita tercetak miring di lantai, oleh sinar matahari senja yang masuk pintu rumah. Narel berdiri memberi jarak pada Molita, langkahnya melambat, terasa berat. “Mama, Bapak….” Molita memanggil sambil melangkah masuk keruang tengah menuju ke belakang, mama dan bapaknya yang sedang duduk di balai kayu di ruang belakang, menengok bersamaan. “Lita, kamu selalu membuat senang orang tua dengan mengejutkan begini.“ Kata bapaknya beranjak untuk memeluknya. Mamanya tersenyum, hanya mengusap rambut ikal anaknya. “Naik apa kamu tadi?“ “Bus mama, oh ya aku datang dengan temanku kesini, Molita menarik tangan mamanya, bapaknya mengikuti. Narel masih berdiri di depan pintu, menyunggingkan senyum yang paling manis, dia sudah berlatih dari semalaman. Mengulungkan tangan untuk berjabat tangan, kepada orang tua Molita. Dingin tangannya seperti baru menggenggam es batu. Bapak Molita menerima dengan wajah datar. Sementara Ibu Molita, memberi senyum tenang. Mereka duduk melingkar di kursi ruang tamu, suasana canggung menggantung. Molita ke belakang, memberi waktu dua laki-laki itu saling melemaskan kata. Merasa menjadi tuan rumah, dan lebih tua, bapak Molita membuka kata, “Molita sudah cerita tentang kamu.” “Bagaimana keluargamu?“ “Mereka di Lembata baik-baik saja Bapak.” “Sudah berapa lama kau kenal Molita?”, kalian ini berteman atau bagaimana saya ingin tahu kelanjutannya lebih jauh hubunganmu.” Bapak dan ibu Molita menunggu jawaban Narel yang duduk rapi di kursi. Sedangkan Molita baru keluar membawa minuman, bergabung menggenapi menjadi empat. “Saya mohon izin, bahwa saya mencintai anak Bapak“ Narel menjawab tegas. Bapak Molita mengalihkan pandangan ke pohon waru di luar jendela, tangannya mengusap ujung dagu yang tidak gatal. Sebagai wartawan, kepekaan Narel sudah teruji. Rasanya seluruh hasil liputannya yang dia ketik hilang terhapus, seketika. Ruang tamu itu terasa gerah, mereka berhadapan tanpa ada kata. “Hmm…aku akan melihat...