Category: Sentilan

0

Ada Yang Masuk Harus Ada Yang Keluar

Matahari seharusnya sudah muncul pagi ini, menurut jadwal salat untuk wilayah Jakarta. Tapi hari ini pertengahan bulan Januari, langit di atas Jakarta agak kelabu. Mendung tipis menutupi sinar matahari. Bergegas aku menuju ke halte bus transjakarta, setelah membuka aplikasi routenya di gawai, bus sudah tinggal 3 halte pemberhentian lagi. Menyenangkan kalau berangkat pagi itu adalah, belum banyak penumpang, tak perlu kita berdesak-desakan, bahkan cenderung kosong dan bisa duduk. Duduk di bangku depanku seorang bapak, kepalanya terangguk-angguk, tertidur pulas dia. Rambut putihnya keriting sudah jarang tumbuh. Berbaju batik warna hijau kusam kerahnya sedikit sobek, terlalu sering terlipat atau tergesek leher, terlihat serat serat kainnya keluar. Pandanganku tertuju pada tas komputer hitam belel di pangkuannya. Pada pangkal tali selempangnya, sudah putus, ada sambungan yang diikat. Sambungan itu yang membuat aku tercekat. Bekas tas kresek hitam yang dipilin, dikaitkan pada gesper tas. Bapak itu masih terkantuk-kantuk di kursi depanku ketika bus sampai di halte tujuanku, aku harus transit ganti bus. Pikiranku kembali pulang melihat ke lemari kayuku. Disitu ada tas komputerku yang tidak putus talinya dan tak pudar warnanya . Ya pagi ini aku dapat pelajaran lagi. Tas itu harus bisa dimanfaatkan oleh orang lain. Transjakarta 7B. 17 Januari 2019

0

Kelas Berjalan

Kendaraan umum ini mendapatkan stigma, kumuh, lambat, pelan, panas karena tanpa AC, juga sesak karena aturan 64nya. Namun tetap dibutuhkan. Tahukah kamu, mengapa ada istilah 64? Karena kendaraan mobil kijang yang dirubah jadi kendaraan umum ini tempat duduknya saling berhadapan, sisi kiri dan kanan. Sisi sebelah kanan berisi 6 penumpang, sedangkan sisi sebelah kiri 4 orang, karena ada pintunya. Peraturan ini sangat ideal untuk orang bertubuh langsing. Untuk penumpang berbadan besar jelas sebuah penyiksaan. Dan kebanyakan sopir nggak mau tahu dengan kondisi itu. Terus saja teriak, Tolong ya kanan 6, kiri 4. Walaupun sudah penuh tempat duduknya dengan 5 penumpang yang gemuk. Dan yang menggelikan, untuk memberikan perintah berhenti pada sopirnya, kita cukup mengetuk atap mobil atau bilang “Kiri-kiri bang”, dijamin angkot akan berhenti. Angkutan kota yang lazim disebut angkot yang aku naiki ini ibarat kelas berjalan bagiku. Berbagai pelajaran aku dapatkan. Hari ini 15 Desember 2017, ada satu pelajaran lagi. Laksana pelajaran yang ditulis guru kita di papan tulis. Tapi kali ini kalimat itu tertulis di partisi belakang sopir. Kematian (aja) tidak mesti menunggu tobat. Yach pelajaran kali ini, kematian adalah sebuah keberangkatan, yang tanpa kendaraan ataupun tiket, juga boarding pass. Semua makhluk hidup dapat dengan seketika berangkat apabila sudah tiba saatnya. Hanya bekal kebaikan yang akan menjadi jaminan dalam perjalanan selanjutnya. Bila kematian datang tanpa menunggu kita untuk tobat dahulu. Maka selagi kita masih bernafas, lakukan amal ibadah semaksimal mungkin, lakukan sesering mungkin, perkara itu nanti meringankan perjalanan kita atau tidak, semua kehendak Allah. Wallahu Alam Bishawab.

0

Overload

Ruang tunggu bandara Mohammad Thaha Jambi sore ini penuh, nyaris semua kursi di ruang tunggu terisi. Beberapa penumpang berdiri di sekeliling deretan kursi, mereka lebih memilih berdiri karena kursi yang disediakan untuk penumpang duduk, terisi tas dan kotak oleh oleh. Sebagian koper dan tas kertas besar ditaruh oleh yang empunya di sela sela kursi, sehingga menghalangi lalu lalang. Suasana agak gerah dan berisik, ruang tunggu yang hanya muat untuk 100 orang itu memang sempit. Perbedaan jam terbang antara pesawat terbang yang akan aku naiki dengan pesawat berikutnya hanya jeda 30 menit. Sehingga penumpang dari dua pesawat itu harus masuk di ruang tunggu nyaris bersamaan. Aku beruntung karena masih mendapat kursi di bagian pinggir, dengan kursi nempel di dinding, di sampingku berdiri AC setinggi dua meter, yang mengarah ke jajaran kursi penumpang di depanku. Disampingku perempuan muda sedang sibuk dengan telephone genggamnya. Di pangkuannya ada tas jinjing perempuan dari kulit ukuran besar, disampingnya tas ransel, disamping kakinya ada dua tas karton ukuran 30×40 cm. Belum lama aku duduk, pengumuman petugas terdengar meminta para penumpang untuk boarding. Bergegas para penumpang berbaris mengular diantara kursi ruang tunggu, menunggu petugas memeriksa boarding pass. Aku masih menunggu sambil duduk, karena tempat dudukku di pesawat di 23 H. Kursi dideretan agak depan dan pinggir, sehingga lebih baik menunggu seluruh penumpang naik. Mengherankan bagiku kalau kita tergesa-gesa antri, bahkan menyelinap diantrian, padahal di dalam pesawatpun kita harus antri untuk menunggu penumpang lain untuk mencari tempat duduknya dan menaruh barangnya dibagasi kabin. Aku perhatikan perempuan disampingku masih menunduk, asyik dengan telephone genggamnya, belum berniat beranjak dari kursinya. Mungkin kami sepaham dalam hal ini, lebih baik menunggu sampai menjadi yang terakhir. Tinggal lima orang dalam antrian, secara hampir bersamaan kami mengangkat badan. Perempuan itu mengangkat tas ransel dan memanggul dipunggung. Tangan kiri menaruh tas jinjingnya di bahu kiri, kemudian dua tangan kanan dan kirinya menjinjing masing-masing tas kertas besar. Sampai di depan petugas perempuan itu ribet mencari boarding pass dan ID card nya, karena tidak perhatian dengan dua benda itu, sehingga tidak sempat menyiapkan. Bawaannya dua tas kertas ditaruh lagi dilantai, dia mencari-cari di dalam tas yang dicantolin di bahu kirinyanya, belum ketemu juga, saku celana jeansnya gantian di obok-obok, nah akhirnya ketemu. Perlu menunggu beberapa saat kami di barisan belakangnya. Aah…betapa repot dan berat juga bepergian dengan bawaan yang berlebihan. Bukannya sudah ada aturan, masuk ke kabin hanya boleh membawa satu koper kecil atau ransel kecil, serta satu bawaan tangan. Beberapa hal yang mungkin diabaikan oleh perempuan ini, bahwa dia melanggar aturan penerbangan, dengan membawa barang masuk ke kabin melebihi batas. Dari sisi keselamatan kalau terjadi hal hal yang membahayakan, dia tidak dapat menolong dirinya sendiri, dan orang lain. Dari sisi yang lain, memiliki materi kalau terlalu berlebihan juga merepotkan, jadi milikilah sewajarnya dan yang betul betul diperlukan. Jambi, Nov 2015