Category: Sentilan

0

Yang Di Serang Yang Cemerlang

Saya akan melihat dampak kegaduhan pada program TV, pada acara debat, tepat semminggu yang lalu, dari sisi sebelah. Dari ucapan orang yang merasa pinter, ditambah emosi yang tidak terkendali, kata kata yang keluar akhirnya menyakiti banyak orang (mungkin yang dituju malah santai saja, terlihat setelah acara usai). Si anak yang lebih muda mengucapkan kata, “sesat, orang tidak pinter”, kepada orang lain, baik yang seusia maupun jauh lebih tua. Mereka yang dikata-katain masih bisa menahan diri. Ketika acara selesaipun, si muda bahkan terlihat tergesa turun dari panggung, tanpa ada jabat tangan, sesama tamu MN. Namun setiap musibah pasti ada manfaatnya. Dengan adanya kejadian ini, bapak Menteri LH (karena setiap saya bilang, saya pegawai KLH, tanggapan orang kebanyakan “oh pak Emil Salim?”) sepertinya bapak ES udah identik dengan KLH. Memang bapak ES adalah pembangun pondasi tentang konsep lingkungan hidup dalam kebijakan pemerintah, bahkan pemerintah luar negeri sangat menghargai beliau. Yah acara TV itu membuat Prof. ES semakin cemerlang, semua orang makin hormat kepada beliau. Inilah hadiah dari Allah SWT, kepada orang yang penuh dedikasi, memberikan hidupnya untuk bumi. Dan si muda itu dijadikan sebagai pengungkit, dengan kecongkakannya. Salam hormat untuk Prof. ES Jasmine, 9 Oktober 2019.

0

Ada Yang Masuk Harus Ada Yang Keluar

Matahari seharusnya sudah muncul pagi ini, menurut jadwal salat untuk wilayah Jakarta. Tapi hari ini pertengahan bulan Januari, langit di atas Jakarta agak kelabu. Mendung tipis menutupi sinar matahari. Bergegas aku menuju ke halte bus transjakarta, setelah membuka aplikasi routenya di gawai, bus sudah tinggal 3 halte pemberhentian lagi. Menyenangkan kalau berangkat pagi itu adalah, belum banyak penumpang, tak perlu kita berdesak-desakan, bahkan cenderung kosong dan bisa duduk. Duduk di bangku depanku seorang bapak, kepalanya terangguk-angguk, tertidur pulas dia. Rambut putihnya keriting sudah jarang tumbuh. Berbaju batik warna hijau kusam kerahnya sedikit sobek, terlalu sering terlipat atau tergesek leher, terlihat serat serat kainnya keluar. Pandanganku tertuju pada tas komputer hitam belel di pangkuannya. Pada pangkal tali selempangnya, sudah putus, ada sambungan yang diikat. Sambungan itu yang membuat aku tercekat. Bekas tas kresek hitam yang dipilin, dikaitkan pada gesper tas. Bapak itu masih terkantuk-kantuk di kursi depanku ketika bus sampai di halte tujuanku, aku harus transit ganti bus. Pikiranku kembali pulang melihat ke lemari kayuku. Disitu ada tas komputerku yang tidak putus talinya dan tak pudar warnanya . Ya pagi ini aku dapat pelajaran lagi. Tas itu harus bisa dimanfaatkan oleh orang lain. Transjakarta 7B. 17 Januari 2019

0

Kelas Berjalan

Kendaraan umum ini mendapatkan stigma, kumuh, lambat, pelan, panas karena tanpa AC, juga sesak karena aturan 64nya. Namun tetap dibutuhkan. Tahukah kamu, mengapa ada istilah 64? Karena kendaraan mobil kijang yang diubah jadi kendaraan umum ini tempat duduknya saling berhadapan, sisi kiri dan kanan. Sisi sebelah kanan berisi 6 penumpang, sedangkan sisi sebelah kiri 4 orang, karena ada pintunya. Peraturan ini sangat ideal untuk orang bertubuh langsing. Untuk penumpang berbadan besar jelas sebuah penyiksaan. Dan kebanyakan sopir nggak mau tahu dengan kondisi itu. Terus saja teriak, “tolong ya kanan 6, kiri 4”. Walaupun sudah penuh tempat duduknya dengan 5 penumpang yang gemuk. Dan yang menggelikan, untuk memberikan perintah berhenti pada sopirnya, kita cukup mengetuk atap mobil atau bilang “iri-kiri bang”, dijamin angkot akan berhenti. Angkutan kota yang lazim disebut angkot ini ibarat kelas berjalan bagiku. Berbagai pelajaran aku dapatkan. Hari ini 15 Desember 2017, ada satu pelajaran lagi. Laksana pelajaran yang ditulis guru kita di papan tulis. Tapi kali ini kalimat itu tertulis di partisi belakang sopir. Kematian (aja) tidak mesti menunggu tobat. Yach pelajaran kali ini, kematian adalah sebuah keberangkatan, yang tanpa kendaraan ataupun tiket, juga boarding pass. Semua makhluk hidup dapat dengan seketika berangkat apabila sudah tiba saatnya. Hanya bekal kebaikan yang akan menjadi jaminan dalam perjalanan selanjutnya. Bila kematian datang tanpa menunggu kita untuk tobat dahulu. Maka selagi kita masih bernafas, lakukan amal ibadah semaksimal mungkin, lakukan sesering mungkin, perkara itu nanti meringankan perjalanan kita atau tidak, semua kehendak Allah. Wallahu Alam Bishawab.