inungminto.com Blog

0

Ada Yang Masuk Harus Ada Yang Keluar

Matahari seharusnya sudah muncul pagi ini, menurut jadwal salat untuk wilayah Jakarta. Tapi hari ini pertengahan bulan Januari, langit di atas Jakarta agak kelabu. Mendung tipis menutupi sinar matahari. Bergegas aku menuju ke halte bus transjakarta, setelah membuka aplikasi routenya di gawai, bus sudah tinggal 3 halte pemberhentian lagi. Menyenangkan kalau berangkat pagi itu adalah, belum banyak penumpang, tak perlu kita berdesak-desakan, bahkan cenderung kosong dan bisa duduk. Duduk di bangku depanku seorang bapak, kepalanya terangguk-angguk, tertidur pulas dia. Rambut putihnya keriting sudah jarang tumbuh. Berbaju batik warna hijau kusam kerahnya sedikit sobek, terlalu sering terlipat atau tergesek leher, terlihat serat serat kainnya keluar. Pandanganku tertuju pada tas komputer hitam belel di pangkuannya. Pada pangkal tali selempangnya, sudah putus, ada sambungan yang diikat. Sambungan itu yang membuat aku tercekat. Bekas tas kresek hitam yang dipilin, dikaitkan pada gesper tas. Bapak itu masih terkantuk-kantuk di kursi depanku ketika bus sampai di halte tujuanku, aku harus transit ganti bus. Pikiranku kembali pulang melihat ke lemari kayuku. Disitu ada tas komputerku yang tidak putus talinya dan tak pudar warnanya . Ya pagi ini aku dapat pelajaran lagi. Tas itu harus bisa dimanfaatkan oleh orang lain. Transjakarta 7B. 17 Januari 2019

0

Terimakasih 2018

Ada perpisahan memilukan. Ada pertemuan tak terduga. Perpisahan dengan orang dekat. Pertemuan dengan orang yang dijanjikan. 2018 Berbagai rasa ada di situ. Selalu, tak pernah aku menyesal. Sekali waktu aku akan menengokmu. Meski hanya sebatas rindu. Terima kasih. Jasmine, 31 Desember 2018

0

Aku Nomor 4

Biasanya kita lebih mudah menebak sifat orang berdasarkan urutan kelahiran dalam keluarga. Anak pertama laki laki memiliki penilaian yang berbeda dengan anak pertama perempuan. Demikian juga dengan anak terakhir akan dianggap memiliki ciri ciri khusus yang berbeda dengan anak pertama, baik itu laki-laki atau perempuan. Seperti misalnya anak pertama secara umum akan bersifat lebih bertanggungjawab, pelindung, egoist, pemimpin. Untuk anak paling kecil atau bungsu, biasanya lebih manja, santai, kurang mandiri, setia, suka membantu. Tetapi aku anak nomor empat, jarang orang mendiskripsikan kepribadian anak nomor empat. Apakah karena kurang menarik atau urutan yang tidak penting? Kalau kita konsultasi dengan psikolog, sering kali atau bahkan kemungkinan besar kita ditanya urutan dalam keluarga. Pasti sangat berpengaruh antara urutan nomor kelahiran dalam keluarga dengan sifat atau kebiasaan seseorang. Ada lagi keistimewaan angka 4 yang lain, dari budaya Bali. Orang Bali memberi nama anak mereka hanya terbatas sampai anak keempat. Nama anak pertama biasanya mereka beri nama Putu bisa Wayan atau Gedhe. Anak kedua biasanya Made atau Nengah bisa juga Kadek, urutan ketiga Nyoman atau Komang dan anak keempat adalah Ketut. Ketut ini berasal dari bahasa Jawa ‘katut” yang artinya ikut (ikutan). Coba betapa tidak pentingnya anak nomor 4 ini, yang hanya ikutan, anak yang tidak diharapkan. Pemberian nama anak pertama ada Putu, Gedhe atau Wayan, menurut temanku, itu hanya karena sesuai tempat asal saja. Misal untuk Bali Barat anak nomor dua kebanyakan diberi nama Nengah, sedangkan Bali sebelah timur lebih memilih Made. Mengapa pula ada beberapa nama namun hanya untuk empat anak saja? Mungkin ini merupakan kearifan lokal Bali untuk membatasi kelahiran. Seandainyapun benar, luar biasa pemikiran mereka zaman dulu dengan jumlah penduduk yang terus membumbung saat ini. Kembali tentang angka 4 yang bermakna urutan ke empat. Tetraphobia adalah kekhawatiran atau ketakutan terhadap angka 4. Ketakutan massal ini menyebar di Asia Timur, alasannya yang saya peroleh dari tulisan, karena pengucapan angka 4 ini terdengar mirip kalau kita mengucapkan kematian. Akan sulit ditemui nomer 4 pada urutan lantai gedung atau lift. Para pemilik tidak akan mencantumkan angka 4. Bisa saja keberadaan angka 4 itu diberlakukan khusus dengan mengganti menjadi 3A, atau nama lain. Sebagai anak nomor 4 saya jadi ingin lebih tahu beberapa alasan mengapa budaya Asia Timur menabukan angka 4 pada nomor rumah, lift, nomor kamar hotel, rumah sakit bahkan konon nomor telephone. Kalaupun orangtuaku terkena phobia ini, kemungkinan aku akan mengisi kolom di kartu keluarga sebagai anak ke 3A?. Bisa jadi. Jasmine, 31 Desember 2018