Berawal Dari Minat, Menerbangkannya Jadi Pengamat

EDUARD LUKMAN (PENGAMAT PESAWAT TEMPUR) Hari Sabtu 7 Maret 2015, akhirnya rencana wawancara dengan pak Eduard Lukman menjadi kenyataan, setelah beberapa kali batal. Pertemuan yang sudah lebih dari dua bulan kami rencanakan, karena kegiatan kami masing masing yang berbeda. Kami sama sama pekerja, Edu (nama panggilan pak Eduard Lukman) mengajar juga pada kelas malam, sehingga hanya hari libur Sabtu atau Minggu yang merupakan waktu luang, tetapi ternyata itupun masih ada gangguan dengan kegiatan keluarga, atau tugas kerjaan keluar kota. Masih kuingat pertemuan pertama dengan dia waktu itu, suatu malam di bulan Agustus 2007 di kampus UI Salemba, dia memberikan pelajaran Etika Komunikasi, hari kedua di program perkuliahanku. Drs. Eduard Lukman, MA, pria berdarah Minang tetapi kelahiran Jakarta, 12 Maret 1953. Seorang dosen di Program Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, juga pernah menjadi editor majalah Angkasa. Dia adalah pribadi yang low profile, seorang pengajar yang mampu menenangkan siapa saja yang sedang resah gelisah. Berbeda bahkan sangat jauh dari kesan “garang” dan “sangar” pada dunia pesawat tempur yang menjadi minat dan pengamatannya yang terwakili dari ratusan koleksi miniatur pesawat tempur yang menjadi hobbi Edu. Pagi itu ketika aku mengetuk pintu rumahnya di kawasan Pejaten, rumah yang sangat asri, beberapa pohon tinggi seperti rambutan, mangga, jeruk, tumbuh rindang di pekarangan depan sampai belakang, samping kiri rumah. Tanaman bunga tertata rapi dan terawat, bunga yang tidak mengenal musim, alamanda yang berwarna kuning merambat di dinding tembok batas tembok tetangga. Ditambah ciri khas dari rumah ini adalah pagar hidupnya. Dari ujung ke ujung jalan hanya rumah dialah yang berpagar tanaman hidup. Dia sudah berpakaian rapi, ketika membukakan pintu rumahnya, siap untuk menerima aku yang ingin mendengar cerita tentang hobbinya yang langka. Sambutan ini membuat aku merasa sangat dihargai sebagai muridnya yang mengganggu waktu libur di hari Sabtu pagi itu. Mataku tertuju ke tulisan “Don’t touch” yang tertempel di lemari kaca, ketika memasuki ruang tamu kediamannya. Lemari kaca yang penuh dengan miniatur, pesawat tempur, helicopter, tank dan pesawat penumpang. Memang tidak penuh dengan perabotan, aku hanya melihat semuanya tertata rapi dan yang menggelitik pikiranku tulisan di kaca lemarinya agar tidak menyentuh koleksinya. Wah serius bapak ini memelihara barang kesayangannya. Membaca tulisan ini terbayangkan kesulitan dia untuk mengumpulkan sebegitu banyak miniatur itu, dan membutuhkan waktu yang pasti bertahun tahun, untuk mencari di berbagai toko di Jakarta, atau bahkan sampai di luar negeri. Edu mengawali ceritanya dengan sejak kapan tertarik secara serius dengan pesawat tempur. Mulai tertarik ketika masih SD pada tahun 1963, dengan literatur yang berbahasa Inggris, awalnya hanya melihat gambar gambarnya saja. Saat duduk di kelas satu SMP yaitu tahun 1965an, sekitar umur 12 tahun. Minatnya bermula dari dua orang pamannya yang berprofesi sebagai Perwira Polisi Udara (AIRUD) sebagai teknisi pesawat terbang dan satu lagi menjadi Perwira Pertama yang bertugas di AURI yang sekarang TNI AU. Setiap kali pamannya datang kerumah oleh olehnya adalah majalah atau buku yang mengulas tentang pesawat tempur, dia beruntung pamannya yang bertugas di Angkatan Udara pernah belajar tentang Helicopter di Texas Amerika Serikat, pada tahun 1957 -1959. Hal tersebut yang menambahkan ilmu tentang pesawat udara karena lebih banyak bacaan yang diperoleh, dari sumbernya langsung. Ketertarikan ini makin menguat tahun 1970-1971an seiring dengan pelajaran bahasa Inggris yang diperoleh di sekolah, mulailah belajar membaca literatur berbahasa Inggris, terutama buku eksiklopedi. Mempunyai minat dan pengetahuan tentang pesawat tempur, menggerakkan dia untuk menuangkannya dalam tulisan. Edu yang terpapar dengan ragam informasi tentang pesawat tempur yang dia peroleh tidak memiliki pendidikan formal tentang aviasi. Pendidikan yang dienyam di bidang ilmu sosial/ilmu komunikasi. Jadi pengetahuan tentang dunia aviasi ini benar benar minat informal saja, di tahun 1975an telah menggoreskan penanya berbagi ilmu tentang pesawat tempur di koran terkenal di negeri ini, Harian Kompas. Puluhan artikel tentang pesawat tempur telah di muat di harian ini. Pengalaman sebagai pengamat dalam bidang pesawat militer, yang sangat langka bagi masyarakat Indonesia, memberi peluang dia untuk menjadi salah satu penulis dan editor tetap di majalah. Pada tahun 1989 – 2003, Edu mendapatkan media untuk menuangkan pengetahuannya di bidang yang sangat dia cintai, yakni sebagai penulis dan editor artikel khusus pesawat militer di majalah Angkasa. Dan tidak tanggung tanggung, Edu pun didapuk menjadi salah satu pengamat pesawat militer di Indonesia. Ditempat kerja ini dia mendapat beberapa kali kesempatan istimewa yang berkaitan dengan pesawat, antara lain kesempatan melihat pameran Air Show. Beberapa air show yang pernah di datangi, pameran Angkatan Udara AS di Hickam Air Force Base, Hawai (1988), Paris (1997), Singapura (2010) dan tentu saja yang di Indonesia, Indonesia Air Show (1986 dan 1996). Kesempatan yang luar biasa juga dia peroleh, hanya orang orang yang terpilih yang mendapatkan peluang untuk mendapatkan undangan menjadi salah satu penumpang pesawat yang kecepatan terbangnya melebihi kecepatan suara. Concord nama pesawat milik pemerintah Inggris tersebut. Pesawat yang memiliki jumlah kursi untuk 100 penumpang ini masuk ke Indonesia, dan majalah Angkasa mendapatkan undangan dari British Airways untuk meliput. Pesawat terbang Concord mendarat di Jakarta, untuk terbang lagi menuju Pert Australia tanpa mendarat, dan balik lagi ke Jakarta. Terbang dengan ketinggian di atas rata rata pesawat penumpang domestik yakni 33.000 kaki, sedangkan Concord terbang pada ketinggian 45.000 kaki. Satuan kecepatan Concord adalah Mach1), dan begitu sudah mengangkasa dan terbang diatas laut lepas kecepatannya ditingkatkan melebihi kecepatan suara. Seluruh penumpang Concord waktu itu mendapatkan sertifikat sebagai penumpang kehormatan, pesawat terbang perdana. Menengok ke lemari kaca yang berisi koleksi miniatur pesawat militer, helicopter, tank pasti memerlukan waktu dan anggaran yang tidak sedikit untuk mengumpulkan semua itu. Mendapatkan miniatur pertama kali ketika pulang dari Honolulu Hawai 1989, yaitu pesawat B29. B29 adalah yang pesawat pengebom Hirosima dan Nagasaki, dari ribuan yang di produksi yang layak terbang saat ini hanya tinggal satu yang sekarang berada di Amerika Serikat. Bentuknya besar itulah sebabnya orang yang gendut biasanya dijuluki bomber waktu dulu, karena dari profil pesawat pengebom yang besar, jenis B29. Sebagian besar memang koleksi pesawat militer, khususnya pesawat yang digunakan pada Perang Dunia II sampai sekarang. Dalam mengatur atau meletakkannya, aku yakin kalau orang awam tidak akan memperhatikannya, ternyata penempatan susunan di lemari itu ada aturannya. Pengelompokkan koleksi pesawat dikategorikan berdasarkan dari waktu dan...